Skip to content

Indonesia – Tak Bosan di.R.A.M.P.O.K – 1

1 April 2012

Kali ini aku ingin meyakinkan kita semua bahwa imperialisme akan selalu mencari bentuknya, hingga masyarakat sadar dan bangun untuk melakukan perlawanan… Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

 

KASUS BLBI : 4 Skenario untuk 4 Kali Perampokan

 

 

Tulisan diambil dari (http://nusantaranews.wordpress.com/)

Jika dirunut sejak awal, maka saya mengatakan bahwa Indonesia (dan nusantara) telah 4 kali dirampok secara besar-besaran yakni 350 tahun penjajahan Belanda, 3.5 penjajahan Jepang, 32 tahun orba, dan ??? BLBI dan turunannya BPPN. Dalam hal ini saya memberi suatu impian atau cita-cita yang hendaknya menjadi solusi para calon pemimpin (apa boleh buat…hanya ada 3 capres saja). Mekipun dari solusi itu akan terlihat ganjil dan sulit untuk terlaksana, yakni :

1.   Perampokan Penjajahan Belanda Selama 350 tahun

Selama 350 tahun, kolonialisme Belanda mengeruk sumber kekayaan olahan Indonesia dalam perkebunan, rempah-rempah dan diakhir-akhir adalah minyak bumi dan tambang lain. Disamping itu, Belanda secara nyata-nyata merampok hak hidup rakyat Indonesia dengan sistem paksa. Ribuan triliun kekayaan alam kita dirampok bahkan nilai yang tidak dapat diuangkan dari nyawa-nyawa rakyat kita yang diperbudak. Belum lagi warisan korupsi VOC yang ditularkan kepada masyarakat nusantara.

Sudah semestinya nenek-moyang pemerintah Belanda memiliki tanggungjawab moril kepada nenek moyang bangsa kita. Oleh karena itu kerugian itu, maka Belanda hendaknya membayar ganti rugi sekurang-kurangnya 5 triliun rupiah per tahun selama 350 tahun (selama 350 tahun baru mencapai 1750 trilun tanpa menghitung depresiasi). Dan secara tertulis dalam sebuah monumen di negeri kincir angin mencantumkan pernyataan maaf kepada nenek-moyang bangsa Indonesia.

2.   Perampokan Penjajahan Jepang Selama 3,5 tahun

Dikatakan bahwa penderitaan penjajahan 3.5 tahun oleh Jepang hampir sama dengan 350 tahun pemerintahan Belanda. Sama seperti kasus Belanda, maka karena besarnya penderitaan fisik maupun mental akibat penjajahan Belanda kepada kakek-nenek kita, maka secara moril dan materil Jepang harus mengganti seluruh kerugian akibat perampokan sumber kekayaan alam, tanaman jarak, romosha. Dan selama 3.5 tahun, pemerintahan Jepang diminta membayar sekurang-kurangnya 25 triliun (total sekurang-kurangnya 87.5 triliun). Dan secara tertulis dalam sebuah monumen di negeri Sakura mencantumkan pernyataan maaf kepada nenek-moyang bangsa Indonesia.

3.   Perampokan Penjajahan Ekonomi, Politik Selama Orba (1967-1998)

Selama hampir 32 tahun, praktis negara kita dikuasai oleh kekuatan asing. Itulah yang dikatakan oleh John Pilger maupun John Perkins dan sejarawan Asviwarman. Selama 32 tahun Bank Dunia, anggota Paris Club, lembaga keuangan menjerat Indonesia dengan utang yang tidak terbayar dengan kebocoran/korupsi lebih kurang 30% dari 128 miliar dollar. Disamping itu perusahaan MNC menguras kekayaan alam kita dan melakukan pembohongan publik seperti dilakukan Freeport yang menambang emas tapi mengatakan menambang tembaga. Begitu juga kontrak kerja migas, bijih besi, hutan dan lain-lain. Ratusan bahkan ribuan triliun kekayaan alam kita dirampok didepan pejabat orba. Oleh karena itu, langkah pertama adalah pemerintah harus menghapus 30% utang yang bocor dari lembaga keuangan. Langkah kedua kontrak kerja/karya yang selama ini merugikan bangsa ditarik bahkan jika dapat diminta pertanggungjawaban (ekstrimnya mengembalikan kerugian).  Dan secara tertulis dalam sebuah monumen di negeri Zamrut Khatuliswa petinggi Orba mencantumkan pernyataan maaf rakyat Indonesia terutama kepada lebih 500 ribu orang simpatisan PKI yang tidak tahu menahu tentang peristiwa Gestapu.

4.   Perampokan BLBI dan BPPN

Jika 3 perampokan pertama didominasi oleh orang asing, maka perampokan keempat justru dilakukan oleh warga Indonesia dan disetujui oleh para pejabat negara yang katanya “melaksanakan amanah rakyat”. BLBI adalah salah satu sejarah perampokan yang masih dapat kita telusuri dan ikuti secara pasti hingga detik ini. Perampokan uang negara dengan memberi BLBI yang tidak transparan seperti laporan BPK dan penghianatan kepada rakyat Indonesia dengan menyatakan lunas membayar padahal baru membayar setengah dari total utang kepada negara. Begitu juga kasus penjualan bank BPPN dengan sangat murah serta BUMN strategis.  Ratusan bahkan triliun rupiah telah dirugikan atas transaksi ini. Semua angkat tangan kasus ini. Solusinya: oke…kita beri win-win solution. Para pejabat yang keliru memberi keputusan yang merugikan keuangan negara dan rakyat, majulah dan mengakulah kepada publik. Lalu, kasus ini kita selesaikan secara bersama-sama. Jujurlah bahwa keputusan yang keliru adalah keliru dan benar adalah benar. Bagaimanapun hutang harus dibayar, dan sungguh tidak adil jika utang bankir dan obligor ditanggung oleh seluruh rakyat Indonesia yang sama sekali tidak mencicipinya. Sungguh tidak adil….seorang kreditor motor yang telah membayar 18 dari 24 bulan harus rela motornya disita karena selama 2 atau 3 bulan tidak sanggup membayar, padahal sudah 75% kreditor tersebut kooperatif dalam mencicil utang. Inilah ketidakadilan.

Bersambung…

Iklan
Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: